SWIPE UP TO READ

Tanda-tanda Mengalami Self Loathing atau Membenci Diri Sendiri

rieda_qurrotu

Bekasinians20 January 2022

BEKASI—Self-loathing juga kita kenal dengan perasaan membenci diri sendiri. Hal ini bisa dirasakan oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Dikutip dari Psychalive.org melalui klikdokter.com bahwa seseorang yang mengalami self-loathing akan selalu merasa kalau dirinya tidak cukup baik, cakap dan pantas melakukan atau mengurus apapun.

Seseorang yang mengalami self-loathing kerapkali membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap lebih 'mampu'. Tidak hanya membandingkan, tapi kesalahan apapun akan terus dicari. Seseorang yang mengalami hal ini selalu merendahkan diri sendiri.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor seseorang mengalami self-loathing, di antaranya:

  1. Kurang bersyukur atas pencapaian diri: Seseorang yang selalu merasa dirinya kurang dan tidak bisa mencintai diri seutuhnya dapat memicu perasaan benci terhadap diri sendiri.
  2. Kurang mendapat dukungan dari orang sekitar atau orang-orang di sekitar yang selalu mengkritik pribadi individu tanpa memberikan solusinya. Apabila seseorang terus mengalami hal ini, maka akan membuatnya menjadi tidak percaya diri.
  3. Memiliki harga diri yang rendah, sehingga seseorang akan selalu merasa rendah diri dan selalu bimbang dalam membuat keputusan.
  4. Adanya kejadian masa lalu yang membuat rasa tidak aman dan nyaman terhadap diri.

Dikutip pula dari Very well melalui Klik Dokter bahwa seseorang yang mengalami self-loathing memiliki gejala sebagai berikut:

  1. Selalu berpikir bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Penderita akan merasa seolah-olah semua hal sudah berakhir dan hancur karena kesalahan yang diperbuatnya, bahkan yang tidak sengaja sekalipun.
  2. Terus fokus pada hal-hal negatif yang akan terjadi.
  3. Harga diri yang rendah dengan merasa bahwa dirinya tak sebanding dengan orang lain.
  4. Terus mencari persetujuan dari orang lain untuk memvalidasi harga diri. Pandangan diri sendiri selalu berubah tergantung bagaimana persepsi orang lain, apa yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka mengevaluasi.
  5. Sukar menerima pujian. Hal positif yang ditujukkan dari orang lain kepada diri sendiri justru diabaikan dengan alasan bahwa mereka hanya bersikap baik.
  6. Tidak percaya diri. Penderita selalu berpikir bahwa orang-orang tidak menyukai dan menerima dirinya apa adanya.
  7. Sensitif ketika orang lain memberi kritikan. Penderita akan menganggap bahwa kritikan dari orang lain merupakan serangan pribadi untuk dirinya.
  8. Sering merasa cemburu kepada orang lain.
  9. Khawatir dengan koneksi positif. Penderita akan menarik diri dengan menjauhkan teman atau calon pasangann karena rasa khawatir ketika mereka akan menjadi seseorang yang memiliki hubungan dekat. Penderita memercayai bahwasannya koneksi positif akan selalu berakhir buruk.
  10. Takut memiliki mimpi besar karena takut gagal di awal atau karena terlalu sering meremehkan diri sendiri atas apa yang sudah dicapai. Penderita kerap kali keras atas dirinya sendiri sehingga jika ada kesalahan yang dibuat, maka penderita akan kesulitan memaafkan diri sendiri.

Setelah dijabarkan tentang beberapa faktor dan gejala penderita self-loathing, Ikhsan juga menjabarkan bagaimana cara pencegahan dan solusinya. Penderita self-loathing akan selalu mengalami perubahan emosi seperti lebih mudah marah, cemas, bahkan depresi. Hal ini terjadi karena merasa dirinya tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Baca juga: Gedung Papak, Saksi Bisu Para Pejuang Bekasi

Menurut Ikhsan, untuk menghilangkan sifat self-loathing adalah dengan cara melihat kembali diri sendiri, bagaimana kemampuan dan kepribadian diri masing-masing. Lalu bisa dilihat kembali tentang hal apa yang selalu gagal. Selain itu, perlu diperhatikan pula mengenai pencapaian diri dan pencapaian tersebut patut dihargai. Apabila masih merasa kesulitan, disarankan untuk meminta bantuan kepada profesional, seperti psikolog.

“Ingatkan diri sendiri bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua orang pernah melakukan kesalahan ataupun mengalami kegagalan. Namun, jadikan kegagalan atau kekurangan dalam diri sebagai motivasi untuk berubah menjadi lebih baik,” tutur Ikhsan.

Terkini

Join Grup

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda